GOOGLE

Search results

Showing posts with label EKONOMI. Show all posts
Showing posts with label EKONOMI. Show all posts

Saturday, January 14, 2017

Pemuda Adalah Aset Bangsa
Pesan di Hari Sumpah Pemuda
(RISWANDI HARIS)

Pemuda adalah bibit bangsa yang akan melanjutkan tatanan berbangsa dan bernegara. Pemuda merupakan generasi pelanjut yang dipundaknya terpampang tanggung jawab mempertahankan keutuhan NKRI dimasa yang akan datang. 
88 tahun yang lalu, pemuda menitipkan amanah dan tanggung jawab itu kepada penerus hingga saat ini dan yang akan datang, hari itu tersusun komitmen pemuda tentang kekuatan pemuda ketika bersatu. Dimana pemuda bermimpi tentang kebebasan dan kemerdekaan.
Hari ini, titipan itu telah sampai kepada kita. Oleh karena itu, mari kita gaungkan semangat perjuangan dengan semangat satu untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. 
Kawan pemuda..
Kita adalah saudara meskipun tak sedarah
Kita adalah satu dan bersatu meskipun kita berbeda
Kita adalah Indonesia, bangsa indonesia, tanah air indonesia dengan bahasa indonesia.
Kita adalah titisan nusantara 
Kita adalah buah hati Ibu pertiwi 
Darah kita sama yakni darah Indonesia
Kawan..
Jika kita tahu bahwa indonesia kita sedang sakit.. mari kita bersatu menyembuhkannya
Jika kita tahu bahwa indonesia kita sedang rusak, mari kita bersama memperbaikinya
Jika kita tahu bahwa indonesia kita sedang hancur,, mari kita susun kembali
Kawan...
Indonesia butuh kita, Indonesia rindu kita dan Indonesia Mengharapkan kita
Indonesia butuh gebrakan, Indonesia Rindu Gerakan kita, Indonesia berharap buah pemikiran kita.
Kawan..
Mari Menggebrak..
Tapi bukan dengan gebrakan yang justru membuat nusantara remuk.
Mari Bergerak.. 
Tapi bukan dengan gerakan yang justru membuat ibu pertiwi menangis
Mari kita jawab harapan itu dengan Gebrakan dan Gerakan yang produktif dengan kreatifitas dan inovasi baru yang membuat ibu pertiwi tersenyum simpuh melihat karya dan buah tangan kita.
Kawan pemuda.. 
Inilah saatnya kita bangkit dan membuktikan bahwa supremasi pemuda Indonesia masih kuat. Membuktikan bahwa pemuda indonesia adalah aset bangsa yang akan menghasilkan keuntungan besar bagi bangsa dan negara ini di masa depan. 
Kita patrikan dalam jiwa bahwa ketahanan NKRI adalah Harga Mati dan Pancasila akan tetap abadi. Zaman boleh berubah tapi semangat kita sebagai pemuda jangan pernah berubah untuk Indonesia Hebat,Indonesia Bisa dan Indonesia Satu.
#RyZ
Salam Hangatku Untuk Pemuda Indonesia
(RISWANDI HARIS)

#pemudabersatu
#pemudakreativ
#pemudaberkarya
#Indonesiabisakarenapemuda
#menujuharisumpahpemuda
#88thsumpahpemuda

Saturday, January 23, 2016

PROBLEM MASYARAKAT DAN TUGAS KAUM MUDA



PROBLEM MASYARAKAT DAN TUGAS KAUM MUDA
(APATIS=BUNUH DIRI)

            Sudah menjadi kodrat manusia untuk hidup bermsyarakat selama menjalani kehidupan ini sebab dari hidup bersama kita mampu menemukan jati diri kita sendiri. Dalam sistem bermasyarakat, kita akan sering menjumpai berbagai karakteristik masyarakat seperti mental,religius,ilmiah, kultur sosial baik yang khusus maupun yang umum. Karakteristrik-karakteristik tersebut akan mengkristalisasi menjadi pribadi-pribadi yang  akan menjelas-nyatakan diri seorang individu dan kelompok.
            Karakteristik masyarakat tersebut akan mengalami perubahan secara berlahan seiring dengan berubahnya peradaban dari zaman ke zaman selanjutnya. Perubahan tersebut dipenagaruhi oleh faktor lingkunagn sosial, ekonomi, dan politis. Sadar atau tak sadar, secara langsung atau tidak langsung pengaruh tersebut akan menciptakan konflik dalam masyarakat misalnya perbedaan kultur, agama dan kelas dalam konteks sosial, akan mempengaruhi pada perbedaan kebutuhan dalam konteks ekonomi  dan persaingan tahta dalam konteks politik.
            Di indonesia sendiri, masalah atau konflik masyrakat semakin sulit teratasi bak penyakit akut yang sampai sekrang belum kita temukan obatnya.
            Dalam perspektif sosial, perbedaan kultur budaya sangat mencolok mulai dari ujung barat hingga ujung timur indonesia. Bhihneka Tunggal Ika hanya simbol atau semboyang belaka karena masih seringnya kita jumpai konflik-konflik antar suku dan agama, seperti yang terjadi di Sumatera,Kalimantan,Sulawesi, Maluku dan Papua.


            Sementara dalam persfektif ekonomi, tingkat kebutuhan masyarakat semakin signifikan semakin meningkat sejalan dengan arus pasar global. Masyarakat Ekonomi Asean telah diterapkan oleh negara-negara Asia Tengara tak terkecuali Indonesia. Ini tentunya akan menjadi masalah bagi masyarakat jika persiapan untuk mengahdapi regulasi pasar bebas ini belum 100% siap. Sebab kita ketahui bersama bahwa angka masyarakat miskin masih tergolong tinggi. Data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan  bulan Maret 2015, jumlah masyarakat miskin mencapai angka 28,59 juta orang atau 11,22% di hitung dari masyarakat dengan pengeluaran /kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.
            Terlepas dari data tersebut, masalah perbedaaan kelas mempengaruhi munculnya indikasi konflik baru dalam masyarakat seperti premanisme,kenakalan remaja dan sebagainya. Sejalan dengan pendapat yang dikemukan  oleh Aristoteles kemiskinan adalah penyebab dominan kriminalitas di masyarakat. Ada banyak kasus kriminal yang di sebabkan oleh faktor ekonomi.
            Dalam sudu pandang politik, Indonesia mengalami perubahan yang cukup dinamis sehingga masyarakat memilih bersikap apatis dan enggan berkomentar dengan dinamika politik di Indonesia. Padahal kita tahu bersama bahwa Negara Indonesia menganut dan junjung tinggi nilai-nilai sistem demokrasi dengan prinsip Dari Rakyat,Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat. Semntara yang realitasnya mengubah prinsip tersebut menjadi Dari Rakyat, Oleh Rakyat dan Atas Nama Rakyat. Kondisi tersebut dapat kita lihat dari banyaknya maraknya wakil rakyat yang tersandung korupsi yang awalnya mengatasnamakan untuk rakyat. Sering juga kita jumpai pertikaian,perkelahian dan bahkan pembunuhan akibat dari perebutan kekuasaan para elit politik.
            Di bagian awal telah dijelaskan bahwa karakteristik masyarakat akan berubah seiring dengan berubahnya kondisi zaman dan akan berdampak besar pada perubagan kondisi masyarakat. Masalah sosial,ekonomi dan politik saling berkesinambungan atau berkorelasi sehingga sulit menciptakan tatanan masyarakat madani. Kondisi sosial yang timpang sering di manfaatkan oleh para elit untuk mencapai hasrat kekuasaannya dengan iming-iming kesejahteraan ekonomi sehingga masyarakat yang tergolong di bawah garis kemiskinan yang awam akan pengetahuan politik menjadi prakmatis tanpa harus berpikir bagaimana idealnya seorang pemimpin atau wakil rakyat.
            Belum lagi persaingan politik yang mengatas namakan agama, sungguh miris kiranya ketika agama yang beresensi kedamaian,keselamatan,kebahagiaan di jadikan sebagai alat untuk saling sikut menyikut berebut tampuk kekuasaan. Yang lebih miris lagi ketika pedoman manusia dan rukun agamapun dijadikan sebagai lahan untuk meraup keuntungan alias korupsi.
            Jika kita kembalikan kedalam diri kita, siapakah yang mesti kita salahkan?. Tentunya kita tidak akan mengkambinghitamkan dan menyalahkan siapapun, karena kita ingin mencari jalan untk bisa lepas dari masalah-masalah tersebut.
Menanti Gerak Kaum Muda
            Secara garis besar konflik-konflik yang terjadi di masyarakat karena adanya beberapa faktor yang mendasari seperti faktor ekonomi,sosial dan juga politik. Tentu kita tidak ingin larut dalam keraguan dan kekhwatiran dengan segala kemungkina yang akan terjadi. Namun sudah menjadi tugas kaum muda untuk bergerak meretas konflik-konflik yang ada.
            Harapan bangsa ini ada pada generasi pelanjut, kaum muda berintelektual,terpelajar yang mampu menyelesaikan konflik-konflik di dalam lingkungan masyarakat karena jika kaum muda tidak memahami,menganalisa dan mengevaluasi masalah-masalah yang ada secara berani, tegas dan tersistematis, maka kita akan menjadi mainan keadaan,boneka sejarah dan tergilas oleh zaman.
            Kaum muda harus mengerti eksistensinya di kalangan masyarakat dan tidak lagi berharap banyak pada generasi tua yang telah menorehkan tinta sejarahnya. Bukan berarti kita harus melupakan para pendahulu, tapi kita harus mampu bergerak mengikuti pergerakan dinamis kehidupan. Kitakaum muda harus membuka mata bahwa saat ini kita berada pada fase zaman Neoliberalism. Persaingan terbuka pada seluruh aspek kehidupan. Kaum muda harus berani melakukan satu langkah taktis untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya.
            Sudah cukup kita terdiam, sudah cukup kita berksikap apatis menyaksikan masalah-masalah yang terjadi di masyarakat kita saat ini. Teringat pesan dan sindiran halus  Pramoedya Ananta Toer yang mengatakan ”Menyedihkan sekiranya di antara para siswasebagai puncak pribumi, merasa tak ada sesuatu yang patut dibela pada bangsda sendiri”. Pesan dan sindiran moral bagi kita kaum muda, generasi penerus tongkat estafet bangsa untk terus bergerak meretas konflik-konflik di dalam masyarakat.
            Sudah saatnya kita menyadari,menganalisa dan mengevaluasi dengan cermat hakikat dari masalah/konflik masyarakat untuk membuktikan eksistensi kaum muda Indonesia. Satu prinsip yang harus kita pegang dan tanamkan dalam jiwa kita sebagai generasi muda “INI ZAMAN KITA, INI MASA KITA, APATIS = BUNUH DIRI, ”

Friday, February 27, 2015

INDONESIA MENUJU MEA 2015



MEA !!! INDONESIA HARUS SIAP !!!
RISWANDI HARIS
HMPS IKOR FIK UNM

            Pemberlakuan MEA tahun 2015 menyebabkan lalulintas perdagangan bebas di kawasan Asia Tenggara menjadi tanpa kendala. MEA merupakan wujud kesepakatan dari negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia serta menciptakan pasar regional bagi kurang lebih 500 juta penduduknya. Perdagangan bebas dapat diartikan tidak ada hambatan tarif (bea masuk 0-5%) maupun hambatan nontarif bagi negara-negara anggota ASEAN. Sebenarnya AFTA dibentuk sudah sejak Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke IV di Singapura tahun 1992. Tetapi, pada akhir tahun 2015 negara-negara ASEAN akan merasakan dampaknya.
            Indonesia kini tengah berpacu dengan waktu dalam menyambut pelaksanaan pasar bebas Asia Tenggara atau biasa disebut dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan dimulai pada tahunn 2015. ASEAN telah menyepakati sektor-sektor prioritas menuju momen tersebut. Ketika berlangsung ASEAN Summit ke-9 tahun 2003 ditetapkan 11 Priority Integration Sectors (PIS). Namun pada tahun 2006 PIS yang ditetapkan berkembang menjadi 12 yang dibagi dalam dua bagian yaitu tujuh sektor barang industri dan lima sektor jasa. Ke-7 sektor barang industri terdiri atas produk berbasis pertanian, elektronik, perikanan, produk berbasis karet, tekstil, otomotif, dan produk berbasis kayu. Sedangkan kelima sektor jasa tersebut adalah transportasi udara, e-asean, pelayanan kesehatan, turisme dan jasa logistik.
            Keinginan ASEAN membentuk MEA didorong oleh perkembangan eksternal dan internal kawasan. Dari sisi eksternal, Asia diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi baru, dengan disokong oleh India, Tiongkok, dan negara-negara ASEAN. Sedangkan secara internal, kekuatan ekonomi ASEAN sampai tahun 2013 telah menghasilkan GDP sebesar US$ 3,36 triliun dengan laju pertumbuhan sebesar 5,6 persen dan memiliki dukungan jumlah penduduk 617,68 juta orang. Tulisan ini secara ringkas akan menganalisis peluang Indonesia menghadapi persaingan dalam MEA.
            Guna menyambut era perdagangan bebas ASEAN di ke-12 sektor yang telah disepakati, Indonesia telah melahirkan regulasi penting yaitu UU No 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan yang telah diperkenalkan ke masyarakat sebagai salah satu strategi Indonesia membendung membanjirnya produk impor masuk ke Indonesia. UU ini antara lain mengatur ketentuan umum tentang perijinan bagi pelaku usaha yang terlibat dalam kegiatan perdagangan agar menggunakan bahasa Indonesia didalam pelabelan, dan peningkatan penggunaan produk dalam negeri. Melalui UU ini pula pemerintah diwajibkan mengendalikan ketersediaan bahan kebutuhan pokok bagi seluruh wilayah Indonesia. Kemudian menentukan larangan atau pembatasan barang dan jasa untuk kepentingan nasional misalnya untuk melindungi keamanan nasional.
            Tingkat utilitisasi preferensi tarif ASEAN yang digunakan eksportir Indonesia untuk penetrasi ke pasar ASEAN baru mencapai 34,4%. Peringkat Indonesia menurut global competitivenes index masih berada pada posisi ke-38 dari 148 negara. Sementara Singapura menempati posisi ke 2, Malaysia di posisi ke 24, Thailand di posisi 37, Vietnam ke 70 dan Filipina di posisi 59. Ketatnya persaingan di pasar ASEAN lebih jauh dapat disimak dari kinerja perdagangan Indonesia di tahun 2014.
Sampai bulan Maret 2014, transaksi perdagangan Indonesia surplus hingga 673,2 juta dolar AS. Surplus didapat dari selisih antara nilai ekspor yang mencapai 15,21 miliar dengan impor 14,54 miliar dolar AS. Surplus Maret ini adalah yang kedua setelah bulan Februari sebesar 843,4 juta dolar AS.
            Namun demikian, Indonesia perlu memberi perhatian khusus terhadap transaksi dagang dengan Thailand yang akan bersama-sama terlibat dalam MEA 2015. Pada Maret 2014 dengan Thailand sampai 1,048 miliar dolar AS. Lebih jauh lagi, surplus perdagangan Indonesia pada bulan 2014 ini belum mencerminkan kekuatan struktur ekspor Indonesia. Industri pengolahan produk ekspor masih bergantung pada bahan baku impor. Kondisi ini sangat rentan karena berarti Indonesia sangat bergantung pada ketersediaan baku dunia. Karena itu arah kebijakan ekonomi Indonesia mulai tahun 2015 harus lebih jelas seiring dengan berlakunya pasar bebas ASEAN.
            Karenanya, menghadapi MEA 2015, Indonesia masih mempunyai berbagai pekerjaan rumah yang harus ditingkatkan agar tetap mempunyai daya saing. Untuk pilar sosial budaya, Indonesia masih perlu kerja keras mengingat masih banyak warga Indonesia yang belum mengetahui tentang ASEAN. Padahal salah satu kunci keberhasilan MEA adalah konektivitas atau kontak antara satu warga negara dengan warga negara ASEAN lainnya. Pemahaman warga negara di Asia Tenggara terhadap MEA belum sampai 80 persen. Karena itu, sosialisasi MEA menjadi sangat penting terhadap seluruh warga negara Indonesia yang memiliki jumlah penduduk terbesar
di ASEAN. Kekuatiran yang muncul adalah, Indonesia hanya akan menjadi pasar bagi produk sejenis dari negara ASEAN lainnya. Untuk pilar ekonomi, Indonesia juga masih harus meningkatkan daya produk Indonesia. Indonesia masih harus mengembangkan industri yang berbasis nilai tambah. Oleh karena itu Indonesia perlu
kerja keras melakukan hilirisasi produk.
            Indonesia sudah menjadi produsen yang dapat diandalkan mulai dari pertanian, kelautan dan perkebunan. Tetapi semua produk tersebut belum sampai ke hilir untuk mengurangi inpor barang jadi, sebab Indonesia telah memiliki bahan baku yang cukup. Dari sisi liberalisasi perdagangan, produk Indonesia praktis tidak terlalu menghadapi masalah sebab hampir 80 persen perdagangan Indonesia sudah bebas hambatan. Bahkan ekonomi yang berbasis kerakyatan (UMKM) berpeluang menembus pasar negara ASEAN. Pemerintah telah melakukan upaya percepatan pemerataan pembangunan sebagai bagian dari penguatan  ekonomi kerakyatan. Antara tahun 2011- 2013, investasi Indonesia banyak diarahkan pada wilayah-wilayah di luar pulau Jawa dengan memberikan rangsangan tax holiday.
            Dengan demikian, pusat pertumbuhan ekonomi di masa depan bukan hanya terpusat di Jawa saja tetapi juga di luar Jawa. Usaha lain yang dilakukan pemerintah adalah dengan membentuk kluster untuk pembinaan UMKM agar memiliki daya saing.
Bukan hanya tantangan yang akan dihadapi tetapi juga peluang. Sektor-sektor yang akan menjadi unggulan Indonesia dalam MEA 2015 adalah Sumber Daya Alam (SDA), Informasi Teknologi, dan Ekonomi Kreatif. Ketiga sektor ini merupakan sektor terkuat  Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN yang lain. Selain itu, dampak masuknya Tenaga Kerja Asing (TKA) ke Indonesia harus dipastikan bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar.