GOOGLE

Search results

Showing posts with label organisasi. Show all posts
Showing posts with label organisasi. Show all posts

Wednesday, March 2, 2016

UNM Menanti Pemimpin


UNM Menanti Pemimpin
(Kemaslahatan Mahasiswa Adalah Prioritas Utama)
Tanggal 3 Maret 2016 UNM menggelar pesta Demokrasi yakni pemilihan Rektor UNM untuk menggantikan Rektor periode 2012-2016 Prof. Dr. H. Arismunandar, M.Pd. Memperebutkan 140 Suara yang terdiri dari 98 suara senat dan 51 suara Menteri. Proses pemilihan rektor telah dilakukan oleh panitia pelaksana yang di komandoi oleh Prof. Amin Rasyid telah melakukan penyaringan bakal calon rektor dari enam calon menjadi tiga calon. Bakal calon tersebut antara lain Prof. Dr. Husain Syam, M. TP, (Dekan Fakultas Teknik UNM), Dr. Syarifuddin Dolla, M.Pd, (Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra UNM), Prof. Dr. H. M. Wasir Thalib, MS, (Kepala LPMP Prov. Sul-Sel), Prof. Dr. Jasruddin, M,Si, (Direktur Pascasarjana UNM) Prof. Dr. Hamzah Upu, M.Ed, (Mantan Dekan Fakultas MIPA UNM) Prof. Dr. H. Heri Tahir, S.H, M.H., (Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan UNM).
            Proses penyaringan bakal calon menjadi calon rektor dilaksanakan pada tanggal 2 Februari 2016 lalu, proses penyaringan tersebut di menangkan oleh (1) Prof. Dr. Husain Syam, M. Tp dengan 35 Suara  (2) Prof. Dr. H. M. Wasir Thalib, MS (24 Suara) dan (3) Prof. Dr. H. Heri Tahir, S.H, M.H (16 Suara) dari 98 suara senat.
             Mendekati akhir dari pencarian pemimpin baru kampus orange yang bersimbol perahu phinisi ini para calon rektor sibuk bergerilya bersilaturahmi dengan petinggi-petinggi negara atapun provinsi khususnya menteri Riset,Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Sebab suara menteri akan menjadi penentu terpilihnya rektor baru universitas tidak terkecuali Universitas Negeri Makassar. Suara Menteri sangat berpengaruh dalam pertarungan menuju kursi istana Phinisi karena memeiliki wewenang 35 %  atau 51 suara. Oleh karena itu, calon-calon rektor sibuk melakukan pendekatan baik secara personal maupun secara kelembagaan.
            Sementara itu, Mahasiswa hanya bisa menjadi penonton pada pertarungan Rektor dan hanya mampu berharap kepada para calon rektor lebih mengedepankan kepentingan mahasiswa Universitas Negeri Makassar daripada kepentingan lainnya. Mahasiswa yang notabene adalah bagian penting dari universitas perlu perhatian lebih sehingga alur-alur akademik bisa termenej dan berjalan dengan baik.
            Sembari menanti pemimpin baru UNM, doa dan harapan atas keresahan mahasiswa adalah kebijakan akademik dan lembaga kemahasiswaan lebih memihak kepada mahasiswa. Perealisasisan Uang Kuliah Tunggal (UKT) harus dijadikan sebagai Prioritas utama semua calon karena dengan terealisasinya UKT secara benar maka segala kebijakan-kebijakan lainnya akan berjalan baik dan benar pula. Seperti pembenahan sarana dan prasarana kampus, Transparansi Dana Lembaga Kemahasiswaan dan lain sebagainya. Sebagai keterwakilan Mahasiswa berpendapat bahwa UKT boleh saja mahal,besar atau tinggi asalkan berbanding lurus dengan pembenahan sarana dan prasarana kampus dan Lembaga Kemahasiswaan tidak lagi mengemis,marah menuntut hak-hak mereka. Harapan tersebut jelas beralasan, Dengan sarana dan prasarana yang mendukung maka proses belajar mengajar akan lebih baik dan dengan transparansi dana kemahasiswaan akan meningkatkan kreativitas Lembaga Kemahasiswaan yang lebih inovatif dalam menjalankan kepengurusan.
            Rekomendasi tersebut untuk semua calon rektor Universitas Negeri Makassar yang nantinya akan menjadi orang nomor satu di universitas. Kemaslahatan mahasiswa adalah poin utama dalam menjalankan amanah sebagai Rektor Universitas Negeri Makassar untuk mencapai tujuan UNM yang berdaya saing tinggi. 

Riswandi Haris 
(Presiden Mahasiwa FIK UNM)

Tuesday, February 9, 2016

MAHASISWA DAN FUNGSINYA



PROBLEMATIKA MAHASISWA
(Kurangnya Kesadaran Diri dan Interaksi Masyarakat)
Present by
(Riswandi Haris)
 
Mahasiswa adalah sekumpulan masyarakat intelektual yang bernaung dibawah naungan universitas dan sederajat. Mahasiswa adalah generasi muda yang menjadi kunci keberlangsungan hidup yang majemuk nan sejahtera di masa yang akan dating. Mahasiswa pula merupakan generasi muda yang menjadi penentu ketepurukan dan degradasi kehidupan di masa yang akan dating, baik untuk dirinya maupun untuk lingkungan, agama dll.
Namun pada kenyataannya Mahasiswa yang katanya agen of change tak mampu berbuat banyak untuk masyarakat dan lingkungannya saat ini. Itu di karenakan beberapa factor antara lain kurangnya kesadaran akan diri dan masyarakat, bentuk alienasi  generasi tua terhadap generasi muda , minimnya ruang berkreasi, berkarya dan bereksperimen.
Kurangnya Kesadaran Diri dan Masyarakat
Generasi  muda berpotensi meraih kesuksesan di masa yang akan datang ketika sadar kan dirinya, dan selalu bertanya – Tanya dengan hatinya tentang dirinya. Memang bukan perkara instan untuk mencapainya karena itu membutuhkan proses dan melewati beberapa tahapan, diantaranya keraguan. Keragu-raguan akan memberi stimulus untuk bisa mencapai yang dikatakan keyakinan, keyakinan akan esensi diri kita. Imam al- Gazali dalam konsep keraguannya mejelaskan bahwa untuk meraih suatu keyakinan yang suci maka dia akan melawati fase keraguan. Rasa ragu akan sesuatu membuat rating kepercayaan akan semakin meningkat. Mengapa demikian,?
Keraguan seseorang akan membuatnya bergerak mencari tahu tentang apa yang ia ragukan saat itu, bisikan – bisikan hati terus bertanya dan bertanya sampai mencapai titik klimaks yaitu keyakinan yang suci. Dan ketika sampai pada tahap itu maka kesadaran akan dirinya akan terjawab, kemudian dari sana secara bercontineu akan sadar dengan masyarakat dan lingkungannya.
Itulah yang saat ini tidak dimiliki oleh mayoritas mahasiswa atau generasi muda saat ini, mereka hanya berjalan dengan taqlib butanya,berjalan dengan polesan – polesan kapitalis yang akan membuat dirinya semakin congkak, sombong, angkuh dll. Sementara mereka tidak sadar apa yang iya sombongkan itu tidak bernilai baik di mata masyarakay pada umumnya.
Sebagai Sosial Of Control, harus lebih membuka ruang terhadap masyarakat yang notabene merekalah yang di perjuangkan oleh mahasiswa. Masyarakat terkadang menganggap mahasiswa hanya mengatasnamakan mereka untuk menunjukkan eksistensinya sebagai penyambung lidah rakyat. Hal tersebut disebabkan karena mahasiswa tidak bersentuhan langsung dengan masyarakat dan hanya melihat dari sisi luar. Bahkan yang miris ketika seorang mahasiswa hanya sibuk dengan dunia-dunia hedonismenya.
Hedonis salah satu karakteristik mahasiswa yang seharusnya di minimalisir atau bahkan harus di hilangkan. Dalam hal ini, tidak ada yang perlu kambing hitamkan baik para kapitalis ataupun mahasiswanya sendiri. Tetapi yang harus di perhatikan oleh mahasiswa adalah fungsi dari mahasiswa itu sendiri (Agen of Change, Sosial of Control dan Moral of Force). Kesadaran terhadap fungsi dan tugas mahasiswa menjadi poin utama untuk menambah nilai lebih dari masyarakat dan membantahkan stigma-stigma negatif terhadap mahasiswa.  
Mengembalikan fungsi mahasiswa yang sebenarnya dengan menyadari diri terlebih dahulu setelah kita sadar akan hal itu maka mutlak kita akan sadar sengan masyarakat dan lingkungan kita. Sebab bagian dari menyadari diri ialah sadar dari mana kita berasal untuk siapa kita saat ini.
COMING SOON
Alienasi Generasi Tua Terhadap Generasi Muda

Thursday, January 14, 2016

MODEL-MODEL KEPEMIMPINAN

MODEL-MODEL KEPEMIMPINAN

a.         Model Continuum Otokratik-Demokratik
Gaya dan perilaku kepemimpinan tertentu selain berhubungan dengan situasi dan kondisi yang dihaddapi, juga berkaitan dengan fungsi kepemimpinan tertentu yang harus diselenggarakan. Contoh: dalam hal pengambilan keputusan, pemimpin bergaya otokratik akan mengambil keputusan sendiri, cirri kepemimpinan yang menonjol ketegasan disertai perilaku yang berorientasi pada penyelesaian tugas. Sedangkan pemimpin bergaya demokratik akan mengajak bawahannya untuk berpartisipasi. Cirri kepemimpinan yang menonjol disini adalah menjadi pendengar yang baik disertai perilaku memberikan perhatian pada kepentingan dan kebutuhan bawahan.

b.        Model “Interaksi Atasan-Bawahan” .
Menurut model ini, efektifitas kepemimpinan seseorang tergantung pada interakksi  yang terjadi antara  pemimpin dan bawahannya dan sejauh mana interaksi tersebut mempengaruhi perilaku pemimpin yang bersangkutan.
Seseorang akan menjadi Pemimpin yang efektif apabila:
o   Hubungan atasan dan bawahan dikategorikan baik.
o   Tugas yang harus dikerjakan bawahan disusun pada tingkat struktur yang tinggi.
o   Posisi kewenangan pemimpin tergolong kuat.
c.         Model Situasional
Model ini menekankan bahwa efektifitas kepemimpinan seseorang tergantung pada pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat untuk menghadapi situasi tertentu dan tingkat kematangan jiwa bawahan. Dimensi kepemimpinan yang digunakan dalam model ini adalah perilaku pemimpin yang berkaitan dengan tugas kepemimpinannya dan hubungan atasan-bawahan. Berdasarkan dimensi tersebut, gaya kepemimpinan yang dapat digunakan adalah:
[  Memberitahukan
[  Menjual
[  Mengajak bawahan berperan serta
[  Melakukan pendelegasian
d.        Model “Jalan-Tujuan”
Seorang pemimpin yang efektif menurut model ini adalah pemimpin yang mampu mneunjukkan jalan yang dapat ditempuh bawahan. Salah satu mekanisme untuk mewujudkan hal tersebut yaitu kejelasan tugas yang harus dilakukan bawahan dan perhatian pemimpin kepada kepentingan dan kebutuhan bawahannya. Perilaku pemimpin berkaitan dengan hal tersebut harus merupakan factor motivasional bagi bawahannya.
e.         Model “Pemimpin-Peran sera Bawahan”
Perhatian utama model ini adalah prilaku pemimpin dikaitkan dengan proses pengambilan keputuusan. Perilaku pemimpin perlu disesuaikan dengan struktur tugas yang harus diselesaikan oleh bawahannya.
Salah satu syarat penting untuk paradigma tersebut adalah adanya serangkaian ketentuan yang harus ditaati oleh bawahan dalam menentukkan bentuk dan tingkat pperan serta bawahan dalam mengambil keputusan. Bentuk dan tingkat peran serta bawahan tersebut “didiktekan” oleh situasi yang dihadapi  dan masalah yang ingin dipecahkan melalui proses pengambilan keputusan.
Pemimpin yang Melayani
Menurut teori tentang memimpin yang melayani dimulai sejak tahun 1970, ketika R.K.Greenleaf (1904-1990) menulis sebuah essay yang berjudul “The Servant as Leader”. Essay tersebut dikembangkan oleh Greenleaf menjadi sebuah buku yang diterbitkan tahun 1977 berjudul “Servant Leadership: A Journey into the Nature of Legitimate Power and Greatness”. Ide mengenai pemimpin yang melayani ini diperoleh Greenleaf tahun 1960-an ketika membaca novel karya Herman Hessee,”Journey to the East”.
Greenleaf (2000) menyatakan bahwa pemimpin yang melayani diawali dengan perasaan alami untuk melayani terlebih dahulu. Setelah itu, dengan kesadaran seseorang ingin memimpin. Greenleaf (2002) mendifinisikan pemimpin yangn melayani adalah seorang pemimpin yang sangat peduli atas pertumbuhann dan dinamika kehidupan pengikut, dirinya dann komunitasnya dan karenanya ia mensahulukan hal-hal tersebut dibandingkan dengan pencapaian ambisi pribadi atau pola dan kesukaannya saja.
Impiannya ialah agar orang yang dilayani tadi akan menjadi pemimpin yang melayani juga. Greenleaf (2002) menekankan, bila seseorang ingin menjadi pemimpin yang efeketif dan berhasil, ia harus lebih dulu memiliki motivasi dan hasrat yang besar untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Dalam hal ini, pemimpin harus mampu mendorong pengikutnya untuk mnecapai potensi optimalnya.
Menurut Larry C. Spears (1995), mengacu pada pemikiran Greenleaf, terdapat karakteristik seorang pemimpin maupun calon pemimpin yang ditunjukkan dari sikap dan perilaku pemimpin tersebut, yang dipaparkkan pada list berikut :
1.    Kesediaan untuk menyimak ( Listening)
Biasanya seorang pemimpin dinilai berdasarkan kemampuannya dalam berkomunikasi dan mengambil keputusan. Kemampuan ini juga penting bagi pemimpin yang melayani, pemimpin ini perlu dikuatkan dengan komitmen yang kuat untuk mendengarkan orang lain dengan sungguh-sungguh. Pemimpin yang melayani mencoba untuk mengidentifikasikan keinginan dari sebuah kelompok dan membantu mengklasifikasikan keinginan tersebut, dengan cara menyimak.
2.    Kuat dalam Empati (Empathy)
Pemimpin yang melayani berusaha untuk mengerti dan berempati dengan oranglain. Manusia perlu untuk merasa diterima dan diakui atas semangat mereka yang khusus dan unik.
3.    Melakukan pemulihan-pemulihan (Healing)
Salah satu kekuatan terbesar seorang pemimpin yang melayani adalah  kemampuannya untuk melakukan pemulihan bagi dirnya sendiri maupun orang lain.
4.    Penyadaran/peningkatan kesadaran (awareness)
Kesadarran umum, dan terrutama kesadaran diri, memperkuat pemimpin yang melayani. Kesadaran juga membangtu seseorang dalam memahami persoalan yang berhubungan dengan etika dan nilai.
5.    Memiliki sifat persuasive (Persuation)
Karakteristik lain dari pemimpin yang melayani adalah mengandalkan persuasi dalam pengambilan keputusan, bukan posisi sebagai otoritas. Pemimpin ynag melayani  mencoba untuk meyakinkan oranng lain, bukan memaksa oranglain untukk  patuh.
6.    Mampu membuat konsep (conceptualization)
Pemimpin yang melayani mengembangkan kemampuannya untuk “memimpikan hal-hal besar”. Kemampuan untuk melihat permasalahan (atau sebuah organisasi) dari perspektif konseptualisasi berarti bahwa seseorang harus berfikir melebihi realitas sehari-hari. Pemimpin yang melayani menyeimbangkan antara pemikiran konseptual dengan pendekatan dengan focus harian.
7.    Mampu membuat perkiraan yang tepat (Foresight)
Foresight adalah sebuah karakteristik yang memungkinkan pemimpin yang melayani untuk memahami pelajaran dari masa lalu, realitas saat ini dan kemungkinan konsekuensi dari sebuah keputusan untuk masa depan. Hal ini juga berakar di dalam pikiran intuitif.
8.    Penata layanannya baik (stewardship)
PeterBlock  (dalam Spears 2004) telah mendefinisikan stewardship sebagai “memegang sesuatu yang dipercayakan kepadanya oleh oranglain”. Pemimpin yang melayani, seperti stewardship, mengasumsikan komitmen utama untuk melayani kebutuhan orang lain. Hal ini juga menekankan pada pengguna keterbukaan dan persuasi dibandingkan dengan pengadilan.
9.    Memiliki komitmen untuk menghasilkan proses pembelajaran (commitment to the growth of people)
Pemimpin yang melayani percaya bahwa orang lain mempunyai nilai intrinsic melebihi konstribusi nyata mereka sebagai karyawan atau pekerja. Sebagai hasilnya, pemimpin yang melayani berkomitmen secara mendalam pada pengembangan dari masing-masing dan setiap individu dalam institusi. Pemimpin yang melayani menyadari tanggung jawab yang luar biasa untuk melakukan semua hal yamg memungkinkan untuk membantu pembelajaran sumberdaya manusia.
10.     Serius dalam upaya pembentukan dan pengembangan komunitas (building community)
Pemimpin yang melayani merasakan bahwa banyak hal yang telah hilang dalam sejarah manusia belakangan ini sebagai hasil dari pergeseran dari komunitas local menjadi institusi besar sebagai pembentuk utama dalam hidup manusia. Hal ini menyebabkan pemimpin yang melayani uuntuk mencoba mmengidentifikasikan beberapa sarana untuk membangun kamunitas di antara mereka yang bekerja di institusi tersebut.
Selain itu Spears juga mengungkapkan indicator tentang pemimpin yang melayani. Indicator ini juga merupakan penambahan dari hasil studi pasca Spears. Indicator tersebut antara lain:
1.        Pemimpin yang melayani menyadari dan menghayati bahwa ia melayani suatu hal yang lebih besar dari dirinya atau organisasinyya.
2.        Pemimpin yang melayani memberikan teladan untuk prilaku dan sikap yang ia ingin hadir dan menjadi bagian utama dari hidup pengikutnya. Jadi ia tidak memaksakan orang untuk mengambil alih suatu   perilaku atau memaksa dengan berbagai hal-hal yang ia inginkan.
3.        Pemimpin yang melayani memiliki pribadi yang otentik yaitu kerendahan hati, dapat diminta pertanggungjawaban, intregitas antara nilai, gambar diri dan ambisinya, serta ia tampil sebagai manusia biasa denggan kelemahannya
4.        Pemimpin yang melayani juga mempersoalkan masalah moral dan berani mengambil resiko dalam menegakkan prinsip etika tertentu.
5.        Pemimpin yang melayani memiliki visi dan mampu memberdayakan orang.
6.        Pemimpin yang melayani mampu memberikan kepercayaan dan pemahaman atas keadaan  pengikutnya.
7.        Pemimpin yang melayani sering bekerja dalam kerangka pikir waktu yang panjang. Ia tidak mengharapkan hasil sppektakuler terlalu cepat karena ia menyadari bahwa untuk menggerakkan dan mentransformasi orang diperlukan waktu yang panjang dan proses yang berkesinambungan.
8.        Pemimpin yang malayani melakukan komunikasi yang proaktif dan bersifat dua arah.
9.        Pemimpin yang melayani juga dapat hidup di tengah perbedaan  pendapat, bahkan ia merasa tidak nyaman bila pendapat, paradigma dan gaya kerja sejenis.
10.    Pemimpin yang melayani memberikan kepercayaan dan wewenang kepada pengikutnya. Ia memiliki gambaran positif, optimis tentang mereka. Ia memberdayakan mereka melalui sharing pengetahuan,skill, dan perspektif.
11.    Pemimpin yang melayani menggunakan persuasi dan logika untuk mempengaruhi orang, selain dengan peneladanan.
12.    Pemimpin yang melayani tidak  berupaya menjadi pahlawan, namun menciptakan  dan melahirkan pahlawan-pahlawan.bahwa pemimpin yang melayani tidak berarti akan menghindar dari masalah atau konflik.
13.    Pemimpin yang melayani mengerjakan banyak hal dan menghindar dari berbagai hal yang lain dapat lakukan. Hal yang terpenting bahwa pemimpin yang melayani tidak berarti akan menghindar dari masalah atau konflik. Ia juga menjadi sosok yang tidak dikendalikan oleh berbagai kelompok yang kuat. Dalam pekerjaan sehari-hari seorang pemimpin yang melayani mendahulukan orang lain. Ia juga membuat orang jadi terinspirasi, terdorong, belajar dan mengabil alih keteladanannya. Pendekatannyabukanlah dengan kekuasaan melainkan   pendekatan hubungan atau relaisional.
Pemimpin Sejati
Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari prooses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika kkeberaniannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah  seseorang lahir menjadi pemimpin sejati. Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari  luar, melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam siri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out).
Kepemimpinan sesungguhnya tidak ditentukan oleh pangkat atau jabatan seseorang. Kepemimpinan adalah sesuatu yang muncul dari dalam dan merupakan buah dari keputusan seseorang untuk mau menjadi pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarga, bagi lingkungan pekerjaan, maupun bagi lingkungan social dan bukan bagi negerinya. “I don’t think you have to be waering stars on your shoulders or a title to be leader. Anybody who want to raise his hand can be a leader any time”, dikatakan lugas oleh General Ronal Fogleman, Jenderal Angkatan Udara Amerika Serikat yang artinya “saya tidak berfikir anda menggunakan bintang di bahu anda atau sebuah gelar pemimpin. Orang lain yang ingin mengangkat tangan dapat menjadi pemimpin di lain waktu”.
Sring sekali seorang epmimpin sejati tidak diketahui keberadaannya oleh mereka yang dipimpinnya. Bahkan ketika misi atau tugas terselesaikan, maka seluruh anggota tim akan mengatakaan bahwa merekalah yang melakukan sendiri. Pemimpin sejati adalah seorang pemberi semangat (encourager), motivator, inspirator, dan maximize.
Konsep pemikiran seperti ini adalah sesuatu yang baru dan mungkin tidak bisa diterima oleh para pemimpin konvensional yang justru mengharapkan penghormatan dan pujan (honor & praise) dari mereka yang dipimpinnya. Semakin dipuji bahkan dikultuskan, semakin tinggi hati dan lupa dirilah seorang peimpin. Justru kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kerendahan hati (humble).
Pelajaran mengenai kerendahan hati dan kepemimpinan sejati dapat kita peroleh dari kisah hidup Nelson Mandela. Seorang pemimpin besar Afrika Selatan, yang membawa bangsanya dari Negara yang rasialis menjadi Negara yang demokratis dan merdeka. Selama penderitaan 27 tahun penjara pemerintah apharteid, justru melahirkan perubahan pada diri beliau. Sehingga beliau menjadi manusia yang rendah hati dan mau memaafkan mereka yang telah membuatnnya menderita selama bertahun-tahun.
Seperti yang dikatakan oleh penulis buku terkenal, Kenneth Blanchard, bahwa kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keliar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Perubahan karakter adalah segala-galanya bagi seorang pemimpin sejati. Tanpa perubahan dari dalam, tanpa kedamaian diri, tanpa kerendahan hati, tanpa adanya integritas yang kokoh, daya tahan menghadapi kesulitan tantangan, dan visi serta misi yang jelas, seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin sejati.
Empat Kriteria Pemimpin Sejati yaitu:
1.      Visioner, yaitu punya tujuan pasti dan jelas serta tahu kemana akan membawa para pengikutnya. Tujuan hidup Anda adalah poros hidup Anda, Andy Stanley dalam bukunya visioneering, mmelihat pemimpin yang punya visi dan arah yang jelas, kemungkinan berhasil/sukses lebih besar daripada mereka yang hanya menjalankan sebuah kepemimpinan.
2.      Sukses bersama, yaitu membawa sebanyak mungkin pengikutnya untuk sukses bersamanya, pemimpin sejati bekanlah mencari keuntungan atau sukses hanya bagi dirinya sendiri, namun ia tidak kuatir dan takut serta malah terbuka untuk mendorong orang-orang yang dipimpin bersama-sama dirinya meraih kesuksesan bersama.
3.      Mau Terus Menerus Belajar dan Diajar (Teachable and Learn continous), yaitu banyak hal yang harus dipelajari oleh seorang pemimpin jika ia ma uterus survive sebagai pemimpin dan dihargai oleh para pengikutnya. Punya hati yang mau diajar baik oleh pemimpin lain ataupun bawahan dan belajar dari pengalaman diri dan orang-orang lain adalah penting bagi seorang pemimpin. Memperlengkapi diri dengan buku-buku bermutu dan bacaan/bahan yang positif juga bergaul akrab dengan para pemimpin akan mendorong skill kepemimpinan akan mengingat.
4.      Mempersiapkan calon-calon pemimpin masa depan, yaitu pemimpin sejati bukanlah orang yang hanya menikmati dan melaksanakan kepemimpinannya seorang diri bagi generasi atau saat dia memimpin saja, namun lebih dari itu, dia adalah seorang yang visioner yang mempersiapkan pemimpin baerikutnya barulah dapat disebut seorang Pemimpin Sejati. Di bidang apapun dalam berbagai aspek kkehidupan ini, seorang pemimpin Sejati pasti dikatakan sukses jika ia mampu menelorkan para pemimpin muda lainnya.
Ciri Pemimpin Sejati:
1.         Integritas
Melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang anda katakana akan anda lakukan. Integritas membuat anda dapat dipercaya. Integritas membuat orang lain mengandalkan anda. Intregitas adalah penepatan janji-janji anda. Satu hal yang membuat sebagian besar orang enggan menggikuti anda adalah bila mereka tak sepenuhnya merasa yakin bahwa anda akan membawa mereka kepada tujuan yang anda janjikan.
2.         Optimisme
Tak ada orng yang mau menjadi pengikut anda bila anda memandang suram masa depan.  Mereka hanya mau mengikuti seseorang yang bisa mmelihat masa depan dan memberitahukan pada mereka bahwa didepan sana terbentang tempat yang lebih baik dan mereka dapat mencapai tempat itu.
3.         Menyukai Perubahan
Pemimpin adalah mreka yang melihat adanya kebutuhan akan perubahan, bahkan mreka bersedia untuk memicu adanya perubahan itu. Sedangkat pengikut lebih suka untuk tinggal di tempat mereka sendiri. Pemimpin melihat adanya kebaikan di balik perubahan dan mengkomunikasinya dengan para pengikut mereka. Jika anda tidak berubah, anda takkan berkembang.
4.         Berani Menghadapi Resiko
Kebanyakan orang menghindari resiko. Padahal, kapanpun kita mencoba sesuatu yang baru, kita harus siap menghadapi rediko. Keberanian untuk mengambil resiko adalah bagian dari pertumbuhan yang teramat penting. Para pemimpin menghitung resiko dan keuntungan yang ada di balik resiko. Mereka mengkomunikasikannya pada pengikut mereka dan melangkah pada hari esok yang lebih baik.